masih terngiang-ngiaang

     Sungguh malam itu semua indera rasanya bergejolak menarik diri yang tidak ada tanggung jawabnya. Semua dosa seakan membayangi birahiku yang sok polos. Didepan mereka aku merasakan pribadiku terlalu rendah dengan kekurangan yang ikut serta didalamnya. Semua pedalaman yang ada, ikut menangisi karena kesombongan diluar perkumpulan ini.
     Bagi mereka tidak adanya kami tidak masalah, karena nyatanya disini kami hanya pasif berlaku. Aku malu pada guru bayangan ku, yang selama ini aku puja dan aku tinggikan dengan bait-bait tulisannya yag mengetarkan hati. Ceritanya tentang perjuangan, keberanian dan tangung jawab, sama sekali tidak mampu aku terapkan.
     Hingga suatu malam dia hadir dalam mimpiku, membelaiku dengan nyanyian seram bernada mengerihkan. Lalu dia berkata, “sepucuk surat telah aku letakkan dimeja tapi kau tidak ingin membacanya, apalagi membalas itu??”, dan lagi, “kau tahu?, hidupmu tidaklah panjang jadilah seorang yang berani tapi berisi. Bukankah dulu kau suka menulis, menulis impianmu, bukan?”. Aku lihat matanya berkaca-kaca menatap kesedihanku.
     Semua telah nampak, berbagai dosa yang terpikul sarat dipundakku. Aku hanya mengernyitkan dahi lalu menunduk dalam, “menakutkan!”. Kataku menutup mimpi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer