Yang Terlupakan

     “semua yang terjadi dibawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang Berfikir.”
                                                                                                       Pramoedya Ananta T.
     Tepat dua hari yang lalu, ketika aku duduk menikmati dinginnya AC bus dan hampir saja tertidur. Perempuan kecil berkaos oblong dengan stelan jeans pendek mengusik rasa kantukku tersebut. Suara kecilnya yang melengking tinggi dengan lagu dewasa, pelan-pelan menarik rasa ngantuk yang sedari tadi tertahan. Rasa pusing yang juga menganggu, sekejap tersingkirkan, aku sibuk memerhatikan dan menyelami penampakannya.
      Tiba-tiba, sekejap, diriku ada dibelahan dunia bocah kecil itu, aku merasa malu yang teramat, minder, dan juga takud. Aku ingin segera lari dari dalam bus ini, kalaupun perlu aku ingin lompat agar aku tidak merasa dipandang sinis oleh orang-orang itu. “kapan kendaraan ini akan berhenti, aku sudah tidak sanggup dengan pengapnya hembusan nafas yang memprotes itu!”, aku menjerit dalam hati dan terus menjerit. Aku tidak kuat, dan aku sudahi bayangan itu. Anak itu kembali ke dunianya dan aku juga kembali pada duniaku.
        Aku tertunduk dalam, mengagumi sekaligus memuji-muji seseorang yang terlalu kuat berdiri diatas ombak besar. Bertahan dengan lengkingan suara dan kantong permen ditangannya. Dari orang ke orang, bangku ke bangku, dia melewati bermacam-macam pandangan yang terlempar kepadannya. Mungkin dihatinya, sama sekali tidak ia pedulikan, yang lebih penting ada sedikit koin yang memasuki kantong permen itu meski tidak sampai penuh. Dirumah, bisa saja orang tuanya yang telah lanjut usia, menanti dengan harap-harap cemas, atau adik-adiknya yang tengah kelaparan, atau mungkin hanya gubuk kecil yang menunggu ia dalam kesepian. Dan aku, terlalu pengecut dalam hidup ini.
      Kantong itu sampai didepanku, mengintip-ngintip. Aku mencoba mengeluarkan koin dari saku celana, kantong itu tersenyum lebar, mengikiskan sendu yang sedari tadi dikandung majikannya. Koin itu masuk dan perlahan tertarik menjauhiku. Kali ini hatiku yang tengah berdebat, mengapa bocah sekecil ini harus ada dijalanan, ditempat ramai dengan banyak resiko seperti ini. Adakah yang memerhatikan raut muka itu, raut muka memelas, ingin dikasihani, dan terkadang meraung minta tolong. Lihatlah air muka itu, dia membuang muka jauh-jauh, menembus kaca yang menghilangkan fokus pandangan. Mencoba menceritakan kepada dunia, kesengsaraan hidup namun pohon-pohon yang melambai sama sekali tidak ingin tahu. Lalu dia mencoba bercerita kepada burung-burung yang tengah berimigrasi, responnya sama, mereka terbang begitu saja tanpa menoleh. Dan sekali lagi bocah kecil itu mencoba bercerita, kepada awan yang bergelayutan.
      Kali ini dia tersenyum bahagia, awan menyambutnya dengan kecerahan. Dia hanya butuh didengarkan, semua beban yang mengantung dihatinya ingin dia bagi, ingin dia sampaikan pada orang yang peduli, tapi siapa?. Muka senduh, air muka kelabu, semua itu bagian dari jeritan hati. Aku kembali pada pandanganku, ternyata dia telah tenggelam oleh kendaraan yang lalu lalang, begitu padat.
       Aku putuskan kembali membangun rasa ngantukku, salam ku titipkan lewat angin yang melayang bersama udara, untuk keluargamu, untuk semua rasa kesepian. Kau bocah kecil, perjuanganmu melawan hidup, mandirillah dan kau akan dilihat orang.

Komentar

Postingan Populer