Masih ngalay

             “Nadi ku mulai tersendat satu persatu, ketika mereka mulai menganyam bait-bait pemahaman tentang ilmu yang tidak kami miliki. Bagaikan binatang yang ikut terseret tali dilehernya dan harus mengikuti sang majikan kemanapun ia dibawa, mungkin pernyataan tersebut mampu mewakili ketololan ini.”
     Hampir setiap malam kami seakan bercermin pada dosa-dosa yang telah lalu dilewatkan. Hampir setiap malam pula kami menyadari bahwa selama setahun berproses di Universitas SM tidak sedikitpun ilmu yang masuk dalam memori kami. Dan khususnya aku pribadi, yang lalu lalang diantara kertas kosong namun sama sekali tidak mencoba untuk mengotorinya.
     Sempat melewati masa-masa yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, mengunjungi tempat-tempat prostitusi, pasar induk dengan pelbagai keunikan dan keringat perempuan tua didalamnya, semua harus menjadi pelajaran hidup namun tidak sedikitpun tersaring dengan tepat. Mungkin saringan itu telah robek dan tidak mampu menyaring dengan baik lagi. Yang tidak pernah aku pahami mengapa hal tersebut terjadi selalu dan selalu.
      Dikepala ku, semua celah telah tertutup rapat dan hampir tidak ada ceruk satu pun yang dapat dimasuki. Entah dipenuhi apa kepala ini, apakah kata-kata galau atau cibiran alay yang kini mejadi gelar ku dimata teman-teman?. Aku kesal, kenapa sebegini rupa diriku.

      Kata mereka, “dasar alay!” tapi aku menyambut cibiran mereka dengan senyuman konyol. Aku menertawai diriku sendiri. Dan semakin konyol pula diriku dimata mereka. Sudah aku coba pikirkan, harusnya dengan segala pengajaran yang aku dapat di Universitas ini, pribadi ku menjadi jiwa yang anti alay. Karena alay adalah kata-kata menjijikkan namun sangat lucu. Aku suka, tapi aku juga anti.
      Namun sangat lucu lagi, ketika virus alay ku menular kepada salah satu teman. Mb’ iis, ya. . dia adalah salah satu teman yang paling parah dengan ke alayannya. Bisa dibilang dia telah mengalahkanku, dia lebih alay. . . (hahahahahahahaha). Aku puas.
      Ah. . lupakanlah kealayan ku dan penularan itu. Betapa egoisnya kami, hanya memikirkan diri sendiri tanpa sedikitpun peduli pada guru-guru besar. Mereka telah merelakan masa-masa bebas mereka, namun tidak sedikitpun terbalaskan jasa yang telah mereka beri. Kami seakan sok pintar dan sudah tau segalanya. Padahal jika ditanya apa kalian paham materi yang kami berikan dari pertama kalian masuk kesini?, jawabannya jelas tidak sama sekali. Dan atas kesadaran kami, semoga apa yang telah terencanakan tadi malam terwujud sesuai dengan coretan tinta itu. Kami ingin mengejar kereta api itu dengan kaki kami sendiri. Kami akan mencobanya!!!

Komentar

  1. jika aku dianggap alay itu kan perasaanmu saja Ratu cacing.
    aku sangat mengapresiasi tulisan ini terutama pada salah satu kalimat yang mengatakan bahwa "Karena alay adalah kata-kata menjijikkan namun sangat lucu" dan itu bagiku sudah cukup mempertegas pengakuan kealayanmu.

    satu lagi, kamu punya dosa padaku karena telah menularkan virus itu.

    khususon alayisme.
    1. Kanthi nyebat asma Allah Ingkang Maha Mirah tur Ingkang Maha Asih.
    2. Sedaten puji punika kagunganipun Allah ingkang mangèrani alam saisinipun
    3. Ingkang Maha Mirah lan ugi Ingkang Maha Asih
    4. Ingkang nggadhahi ing dinten agami
    5. Namung dhumateng Paduka kawula manembah, lan namung dhumateng Paduka kawula nyuwun pitulungan
    6. Dhuh Allah, mugi nedhahaken margi ingkang leres dhumateng kawula
    7. (Inggih punika) marginipun para tiyang ingkangPaduka sami paringi nikmat sanès marginipun tiyang ingkang Panjenengan paringi bendu lan tiyang ingkang sami kesasar.
    amien. ( http://mpit19.blogspot.com )

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer