Tadi Malam
Ah, , bukankah diri ini terlalu takut mengakui salah sendiri, petuah-petuah itu seakan memberi sekat agar kami menjaga jarak. Dan ternyata begitu sulitnya kami membaur dengan mereka. Semua terlihat sangat bodoh, dan muka pun seolah begitu berat untuk diangkat. Lalu diantara otak yang terbagi atas beberapa bagian, kian bergulat menjadi tidak sepatutnya. Ya , ,berjalan tidak sesuai dengan tugas awal.
Dan semakin tidak terduga lagi, semua isi didalamnya kosong, dimanakah semua yang telah dikobar-kobarkan setahun ini. “Tidak ada”, jawab diri ini!. Dan semua itu semakin bergejolak ketika sang petuah mendesak, terus mendesak dengan menampakkan ketololan jiwa-jiwa labil ini. “tidak terimakah kau?” ucapnya. Dan jiwa muda itu sama sekali tidak menjawab, hanya meringkuh diantara kaki yang ditekuknya. Petuah semakin kesal, geram, berkali-kali mengusik jiwa muda itu dengan cekokan berantas. “Babat habis saja kalau tak sanggup” imbuhnya. Aih . .jiwa muda itu semakin kikuk, bukankah ini sebagai penindasan atas ketololan yang tidak pernah ada rubahnya. Jiwa muda itu terus meringkuk, menyesali. Tapi, disaat itu sajakah akan ada penyesalan, lalu balik lagi tolol. Ah , , petuah itu terus mempertahankan, tapi si jiwa muda tak mampu mengikuti semua ambisi-ambisi hati.
“kau butuh apa jiwa muda?, sebutkan saja, tidak perlu malu, tidak dosa untuk meminta.!” Tegas sang petuah.
Ah , ,lagi-lagi jiwa-jiwa muda itu terus bersembunyi diantara tekukan kaki yang sedari tadi enggan diubah posisinya. Menunduk semakin dalam, jiwa itu tengah menyelami janji dimasa lalu, janji yang menuntut bukti. Semua semakin tertegun, tak berani memperlihatkan muka-muka kecut karena ketakutan. Tidak ada peringisan, tidak ada kekonyolan yang dibawa, semua terasa semakin mistis. Aih . . anak manusia, inikah jiwa-jiwa pecundang yang mengerogoti ketangguhan kalian dimasa lalu?.
Bukankah seharusnya kau bangkit dan membawa sebuah peradaban baru yang lebih indah untuk dirasakan.
Ah , , terlalu besarkah harapan itu wahai jiwa muda?. Lalu kau begitu saja akan menyerah? Pengecut, benar-benar pengecut. “sudahi saja jika terus begini!” kata petuah geram. Lagi-lagi bersembunyilah muka-muka pengecut itu.
jiwa muda? jiwa tua gitu? Aih.. seakan-akan : berada di jaman kolonial D Lanjutkan!
BalasHapuslike, jaman kolonial. jiwa ku seakan ikut berapi-api.
BalasHapus